Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu
mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara
lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan,
menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini
siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru
hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery
ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental
melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri,
agar anak dapat belajar sendiri. (Mubarok, C.,
& Sulistyo, E, 2014:2015)
Metode pembelajaran discovery merupakan suatu metode pengajaran
yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses
pembelajarandengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan
fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur,
algoritma dan semacamnya.
Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan
memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi
pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan
pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
TahapSeorang guru
bidang studi, dalam mengaplikasikan metode discovery learning di kelas harus
melakukan beberapa persiapan. Berikut ini tahap persiapan menurut Bruner,
yaitu:
Menentukan tujuan
pembelajaran.Melakukan identifikasi
karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
Memilih materi
pelajaran.
Menentukan topik-topik
yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
Mengembangkan
bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya
untuk dipelajari siswa.
Mengatur topik-topik
pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkrit ke abstrak, atau
dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
Melakukan penilaian
proses dan hasil belajar siswa
Dahar (dalam Marliana:2015) mengemukakan beberapa peranan guru dalam pembelajaran
dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga
pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para
siswa.
Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan
sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi
pelajaran itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar
penemuan, misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan.
Guru juga harus memperhatikan cara penyajian yang
enaktif, ikonik, dan simbolik.
Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau
secara teoritis, guru berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru
hendaknya jangan mengungkapkan terlebuh dahulu prinsip atau aturan yang akan
dipelajari, tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran bilamana diperlukan.
Sebagai tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat.
Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam
belajar penemuan. Secara garis besar tujuan belajar penemuan ialah mempelajari
generalisasi-generalisasi dengan menemukan generalisai-generalisasi itu.
Efektif atau tidaknya suatu model pembelajaran
tergantung dari bagiaman mengimplementasikan model tersebut, apakah sudah
sesuai dengan tujuan, materi dan karakteristik siswa. Sama halnya dengan model
pembelajaran yang lain, model pembelajaran Discovery
juga memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah (1) Membantu siswa
untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses
kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung
bagaimana cara belajarnya. (2) Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan
cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. (3) Menyebabkan siswa mengarahkan
kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri
Selain
memiliki kelebihan, tentunya setiap pembelajaran juga memiliki kekurangan atau
kelemahan, kelemahan dari model pembelajaran ini yaitu: (1) Metode ini
menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang
pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berpikir atau mengungkapkan
hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada
gilirannya akan menimbulkan frustasi. (2) Metode ini tidak efisien untuk
mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lama untuk
membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. (3) Pengajaran discovery
lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek
konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
Demikian ulasan singkat mengenai
model pembelajaran Discovery, semoga
dapat bermanfaat bagi sobat blogger semua. Tetap semangat ya !!!
Daftar referensi
Marliana, A. (2015, 12 21). Apa Perbedaan discovery
learning, Problem based learning dan problem solving. Retrieved Desember 9,
2016, fromhttps://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/metode-pembelajaran-discovery-penemuan/
Mubarok, C., &
Sulistyo, E. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Discovery
Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X Tav Pada Standar Kompetensi
Melakukan Instalasi Sound System Di Smk Negeri 2 Surabaya. Jurnal Pendidikan
Teknik Elektro, 3 (1), 215 – 221.
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.