“Belajar
sambil bermain” salah satu kalimat yang tidak asing lagi bagi hampir semua
pelajar di Indonesia karena jika mendengar kata bermain ini pastinya akan
terbesit pemikiran ke arah permainan yang asik untuk dimainkan. Apalagi untuk
pelajar yang lagi kehilangan semangatnya dan membutuhkan inovasi yang asyik untuk
belajar, pastinya membutuhkan model pembelajaran yang tidak membosankan. Nah, karena
kita sedang membahas mengenai “bermain” maka untuk megembalikan semangat
belajar para sobat blogger, model pembelajaran yang akan kita bahas tidak jauh
dari topik permainan yaitu model pembelajaran Role Playing atau bermain peran.
Model pembelajaran inquiry adalahmodel pembelajaran yangmempersiapkansiswapadasituasiuntukmelakukaneksperimensendirisehinggadapatberpikirsecarakritisuntukmencaridanmenemukanjawabandarisuatumasalah yang dipertanyakan. Menurut Indahwati
(2012:259) model pembelajaran inquiry
ini bertujuan untuk melatih kemampuan siswa dalam meneliti, menjelaskan
fenomena dan memecahkan masalah secara ilmiah. Model Pembelajaran inquiry
banyak dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif, menurut aliran ini belajar
pada hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan
segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Teori belajar lain
yang mendasari pembelajaran inquiry adalah teori belajar konstruktivistik.
Dimana Setiap individu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri
melalui skema yang ada dalam struktur kognitifnya. Skema itu secara terus
menerus diperbarui dan diubah melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu
mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara
lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan,
menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini
siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru
hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery
ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental
melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri,
agar anak dapat belajar sendiri. (Mubarok, C.,
& Sulistyo, E, 2014:2015)
Pendidikan
tidak terlepas dari proses pembelajaran, dimana melalui pembelajaran inilah apa
yang dicita-citakan dan tujuan dari pendidikan nantinya disampaikan dalam
bentuk materi dan praktik. Corey (dalam Hendrawati dkk, 2012:2) mengungkapkan
mengenai konsep dari pembelajaran yaitu bahwa “pembelajaran merupakan suatu
proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan
ia turut serta dalam tingkah laku tertentu terhadap situasi tertentu, sehingga
pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan”. Hal ini menunjukkan
bahwa lingkungan mempengaruhi tingkah laku dan sikap siswa dalam menerima
informasi. Dalam lingkup pembelajaran terdapat subjek serta objek pembelajaran,
dimana guru dan siswa merupakan subjek pembelajaran sedangkan materi merupakan
objek pembelajaran.